“Kalau setiap halaman harus dicatat, kapan kamu sempat menikmati bukunya?”
Catatan saat membaca bisa jadi alat bantu yang bikin gagasan penting lebih mudah dipahami, tapi bisa juga mengubah waktu membaca jadi sesi menyalin tanpa henti.
Bayangkan kamu lagi membaca buku tentang negosiasi sebelum rapat penting, lalu menemukan satu teknik yang bisa langsung dicoba besok pagi.
Kamu mungkin ingin menandai bagian itu, menuliskannya ulang, atau menambahkan contoh dari pengalaman sendiri.
Di sisi lain, kalau tiap paragraf dicatat, alur bacanya bisa putus dan buku terasa seperti tugas sekolah, hehehe.
Jadi, jawabannya bukan wajib mencatat atau sama sekali gak boleh mencatat, melainkan memilih kapan dan bagaimana catatan membantu tujuanmu.
Kapan Catatan Saat Membaca Buku Membantu?

Mencatat paling berguna saat kamu membaca dengan tujuan yang jelas, bukan sekadar mengejar jumlah halaman.
Misalnya, kamu sedang mencari cara memberi umpan balik yang lebih baik kepada tim, mempelajari konsep baru untuk pekerjaan, atau menyiapkan bahan diskusi.
Dalam situasi itu, catatan berfungsi sebagai penanda untuk menemukan kembali gagasan yang relevan, bukan salinan lengkap isi buku.
Kalau satu gagasan bisa mengubah keputusan atau tindakanmu, catatlah gagasan itu bersama alasan kenapa kamu memilihnya.
Catatan juga membantu ketika isi buku berisi istilah baru, langkah berurutan, atau hubungan sebab-akibat yang sulit ditahan di kepala sekaligus.
Contohnya, saat membaca buku tentang manajemen proyek, kamu bisa mencatat tiga risiko yang perlu diperiksa sebelum tenggat, lalu menambahkan proyek mana yang sedang kamu tangani.
Catatan yang terhubung dengan situasi nyata biasanya lebih mudah dipakai lagi daripada kutipan yang berdiri sendiri.
Kapan Mencatat Justru Mengganggu?

Mencatat mulai mengganggu ketika tanganmu sibuk menyalin, sementara pikiranmu gak sempat memproses maksud penulis.
Ini sering terjadi saat kamu menyalin satu halaman penuh karena takut melewatkan sesuatu, padahal belum tentu semua detail akan berguna nanti.
Kalau kamu berhenti setiap beberapa kalimat untuk membuka aplikasi catatan, mencari format warna, lalu merapikan judul, fokus membaca bisa keburu hilang.
Ukuran catatan yang baik bukan banyaknya halaman, tetapi seberapa jelas kamu bisa menjelaskan gagasannya dengan kata-katamu sendiri.
Riset tentang pembelajaran juga mengingatkan bahwa membaca ulang atau menandai teks saja gak otomatis membuat kita menguasai materi.
Dalam penelitian mereka tentang belajar, Karpicke dan Blunt menemukan bahwa mencoba mengingat kembali informasi setelah belajar dapat membantu pemahaman lebih baik daripada sekadar membaca ulang dalam kondisi penelitian mereka.
Artinya, catatan sebaiknya menjadi bahan untuk berpikir dan mengingat, bukan alasan untuk berhenti pada kegiatan menyalin.
Bedakan Membaca untuk Menikmati dan Membaca untuk Belajar
Sebelum membuka buku, tanyakan ke diri sendiri, “Aku membaca ini untuk apa?”
Kalau kamu membaca novel untuk menikmati cerita, gak perlu memaksa diri membuat rangkuman tiap bab.
Kamu bisa menandai satu kalimat yang kamu suka atau mencatat nama tokoh yang sulit diingat, lalu kembali menikmati alurnya.
Namun, kalau kamu membaca buku untuk mempelajari keterampilan yang akan dipakai di tempat kerja, beberapa catatan terpilih bisa membuat prosesnya lebih terarah.
Contoh sederhananya, saat membaca buku tentang presentasi, tandai satu cara membuka presentasi, lalu tulis kapan kamu akan mencobanya.
Dengan begitu, cara mencatat mengikuti kebutuhan bacaan, bukan aturan kaku yang sama untuk semua buku.
Sistem Catatan 3 Langkah untuk Buku Nonfiksi

Kalau kamu sering kebablasan mencatat, pakai sistem sederhana ini supaya ide tetap tertangkap tanpa membebani sesi membaca.
- Tandai seperlunya. Beri garis atau penanda hanya pada kalimat yang menjawab pertanyaan bacamu atau memicu ide yang ingin kamu cek lagi.
- Berhenti di akhir bagian. Setelah satu subbab selesai, tutup buku sebentar dan tulis satu atau dua gagasan utama memakai bahasamu sendiri.
- Tambahkan hubungan pribadi. Catat satu contoh, pertanyaan, atau tindakan kecil yang menghubungkan ide itu dengan pekerjaan dan kehidupanmu.
Misalnya, kamu membaca soal memberi umpan balik secara spesifik, lalu mencatat: “Sebutkan perilaku, dampaknya, dan perubahan yang diharapkan; coba saat evaluasi proyek Jumat.”
Catatan itu singkat, tetapi cukup untuk mengingat konsep dan tahu kapan kamu akan menggunakannya.
Batasi diri pada tiga bagian untuk satu sesi membaca, lalu lihat apakah semuanya benar-benar berguna.
Pilih Bentuk Catatan yang Paling Mudah Dipakai
Kamu gak butuh aplikasi khusus atau sistem warna yang rumit untuk mulai mencatat.
Buku fisik cocok kalau kamu ingin menggarisbawahi cepat, sementara catatan digital berguna kalau kamu perlu mencari kata kunci atau menyimpan ide dari beberapa buku.
Untuk sesi 20 menit, misalnya, kamu bisa menandai halaman saat membaca dan memakai lima menit terakhir untuk menulis tiga poin di buku catatan.
Kalau kamu sering lupa membuka catatan digital, satu kartu kecil yang diselipkan di buku mungkin lebih praktis.
Yang penting, pilih cara yang membuatmu mudah menemukan catatan lagi tanpa harus merawat sistemnya terus-menerus.
Kadika biasanya menyarankan satu pertanyaan sederhana sebagai penyaring: “Kalau aku membuka catatan ini sebulan lagi, bagian mana yang ingin kutemukan?”
Kalau jawabannya gak jelas, bagian itu mungkin gak perlu dicatat.
Uji Catatanmu Tanpa Membuka Buku
Setelah selesai membaca satu bagian, tutup bukunya dan coba ceritakan inti gagasan dalam dua kalimat.
Kalau kamu kesulitan, buka catatan atau bagian yang ditandai untuk memeriksa apa yang terlewat, lalu tulis ulang dengan kata-katamu sendiri.
Latihan kecil ini menunjukkan apakah catatanmu benar-benar membantu memahami ide atau hanya menyimpan kalimat penulis.
Kamu juga bisa menjelaskan gagasan itu kepada teman kerja dalam satu menit atau menghubungkannya dengan keputusan yang sedang kamu hadapi.
Untuk mengembangkan kebiasaan membaca yang lebih terarah, kamu bisa melihat Impactful Reading Super Skill dan memilih cara belajar yang sesuai dengan kebutuhanmu.
Kalau kamu ingin membaca lebih rutin tanpa membuatnya terasa seperti tugas tambahan, artikel tentang ritual yang bikin membaca jadi bagian hidupmu juga bisa jadi titik awal.
Saat kamu membaca buku berikutnya, satu gagasan apa yang benar-benar ingin kamu bawa ke pekerjaan atau keputusanmu, dan apakah gagasan itu layak dicatat?
