“Kebijaksanaan bukan hanya tahu kapan harus mulai, tapi juga kapan harus berhenti.” — Sun Tzu
Ada satu kebiasaan yang diam-diam membunuh kecintaan banyak orang pada membaca.
Bukan karena mereka malas. Bukan karena bukunya jelek.
Tapi karena mereka memaksakan diri untuk terus membaca padahal sudah nggak menikmati.
Halaman demi halaman dibaca dengan mata yang menelusuri kata, tapi pikiran sudah entah ke mana.
Dan setelah selesai, yang tertinggal bukan insight, tapi kelelahan dan rasa, “ngapain tadi aku baca ini?”
📖
Impactful Reading Super Skill — 7 Seri Artikel
Artikel 6/7
Pilih cara akses yang paling cocok buat kamu.
✅ Tersedia 24 slot

Aku berhenti baca sebuah buku tentang komunikasi karena buku yang kubaca itu bajakan, terlihat banget dari kualitas cetakannya 😑 ceritanya itu buku preloved, dan aku beli, cuma pas aku baca dan buka itu bikin gak nyaman selama membaca
Ternyata penerbit begitu memperhatikan kenyamanan pembacanya yah, sampe kualitas kertas dan cetakan diperhatikan
WKWKWk, apa itu judulnya?
Bener kadika, membaca itu kan kebebasan masing2 ya. Kadang diri sendiri sih harus berdamai dengan rasa bersalah kalo galanjut baca buku. Dan ngga mager untuk lanjut baca buku lain meskipun banyak buku lain belum beres. Karena otak butuh dikasih makan tetep haha
benerrr, kita perlu menerima kenyataan kalau kita emang udah gak minat sama buku itu… jadi yaudah simpen dulu aja… gak perlu merasa sayang udah beli buku itu.
Menarik sekali insight dari tulisan Kadika kali ini bahwa gak ada salahnya berhenti baca buku yang gak menarik, meskipun ketika mau beli rasanya butuh banget. Karena gak bisa dipungkiri juga, terkadang kita memutuskan beli buku hanya karena fomo, ikut-ikutan teman tongkrongan, padahal sesungguhnya kita gak benar-benar butuh buku itu saat ini. Semoga menjadi pengungat juga untuk kembali bertanya berkali-kali sebelum memutuskan beli buku agar keputusan beli buku menjadi lebih bijak di masa mendatang.