“Kata kerja membaca gak suka diperintah.” — Daniel Pennac, The Rights of the Reader
Kamu mungkin pernah membuka buku setelah kerja, membaca beberapa halaman, lalu kepikiran hal lain, dan menyimpulkan membaca terasa membosankan.
Padahal, bisa jadi kamu bukan gak suka membaca, melainkan belum menemukan buku, waktu, atau cara baca yang cocok buatmu.
Kalau kegiatan ini terasa seperti tugas tambahan, wajar kalau otakmu sibuk mencari alasan buat menutup bukunya.
“Aku harus menamatkan buku ini,” katamu dalam hati.
“Memangnya harus sekarang?” balas sisi dirimu yang sudah lelah.
Perasaan bosan bukan bukti bahwa kamu pembaca yang buruk, tetapi petunjuk bahwa ada sesuatu yang belum pas.
Kenapa Membaca Terasa Membosankan?

Bosan saat membaca biasanya muncul dari gabungan beberapa hal, bukan semata-mata karena kamu kurang disiplin.
1. Kamu Membaca Karena Merasa Harus
Mungkin kamu membeli buku karena sedang ramai dibicarakan, ingin terlihat produktif, atau merasa orang sukses wajib membaca buku tebal.
Masalahnya, alasan dari luar gampang kehilangan tenaga saat kamu pulang kerja dengan kepala penuh urusan.
Menurut teori motivasi yang dikembangkan Edward Deci dan Richard Ryan, rasa punya pilihan ikut mendukung motivasi dari dalam diri.
Artinya, memilih buku yang benar-benar membuatmu penasaran bisa terasa lebih ringan daripada memaksa diri membaca buku yang katanya penting.
Jangan mulai dengan pertanyaan, “Buku apa yang seharusnya kubaca?” Coba ganti menjadi, “Hal apa yang lagi ingin kupahami?”
2. Buku dan Kondisimu Gak Cocok
Buku yang bagus belum tentu cocok dibaca kapan saja.
Buku tentang strategi karier yang padat bisa terasa berat ketika kamu cuma punya energi untuk cerita ringan sebelum tidur.
Sebaliknya, novel yang bergerak lambat mungkin kurang menarik saat kamu sedang ingin mencari jawaban praktis untuk masalah kerja.
Ini bukan alasan untuk melabeli satu genre sebagai lebih baik daripada genre lain.
Ini soal mencocokkan isi buku dengan kebutuhan dan tenaga yang kamu punya hari itu.
3. Kamu Mengira Harus Membaca dari Awal sampai Akhir
Banyak pembaca menganggap buku harus dibaca berurutan dan ditamatkan, padahal gak semua buku dirancang untuk pengalaman yang sama.
Buku referensi bisa dibuka dari bab yang paling kamu butuhkan, sementara kumpulan esai bisa dibaca satu tulisan setiap kali duduk.
Kalau bukunya terasa semakin menjauh dari kebutuhanmu, kamu juga boleh berhenti atau pindah ke buku lain.
Kamu bisa membaca panduan kapan berhenti membaca dan kapan melanjutkan untuk mempertimbangkan keputusan itu tanpa merasa bersalah.
Menutup buku yang gak cocok bukan kegagalan, sama seperti berhenti menonton serial yang gak kamu nikmati.
Temukan Pola Baca yang Cocok Buat Kamu

Pola membaca bukan jadwal kaku yang harus kamu ikuti seumur hidup.
Pola yang cocok adalah cara membaca yang cukup mudah diulang dan memberi alasan buat kembali ke buku.
Mulai dari Rasa Penasaran, Bukan Target Tebal
Tulis tiga pertanyaan yang sedang mengganggu pikiranmu, misalnya cara meminta kenaikan gaji, kebiasaan mengatur uang, atau alasan tokoh dalam serial favoritmu mengambil keputusan tertentu.
Lalu cari buku yang menjanjikan jawaban untuk salah satu pertanyaan itu melalui sinopsis, daftar isi, atau beberapa halaman awal.
Kalau topiknya terasa dekat dengan masalahmu, kemungkinan besar kamu punya alasan yang lebih nyata untuk lanjut membaca.
Kadika biasanya akan lebih mudah memulai saat sebuah buku menjawab pertanyaan yang memang sedang dipikirkan, bukan karena buku itu populer.
Uji Tiga Cara Membaca Selama Seminggu
Daripada menetapkan target besar, lakukan percobaan sederhana selama tujuh hari untuk melihat cara mana yang terasa alami.
Hari pertama dan kedua: baca selama 10 menit sebelum tidur, lalu catat apakah waktu itu terasa nyaman atau malah bikin kamu cepat mengantuk.
Hari ketiga dan keempat: bawa buku atau aplikasi baca saat perjalanan, lalu manfaatkan satu jeda sekitar 10 sampai 15 menit.
Hari kelima dan keenam: baca satu bagian pendek saat istirahat makan siang, tanpa target harus menyelesaikan satu bab.
Hari ketujuh: pilih waktu yang paling enak dan ulangi, atau ubah bukunya kalau kamu masih merasa terpaksa.
Catat tiga hal setelah setiap sesi: waktu, suasana hati, dan bagian yang bikin kamu ingin lanjut atau berhenti.
Contohnya, kamu mungkin menyadari bahwa 12 menit di kafe terasa lebih menyenangkan daripada 30 menit di kasur saat sudah mengantuk.
Data kecil seperti ini lebih berguna daripada menghakimi diri dengan kalimat, “Aku memang gak bisa konsisten.”
Sesuaikan Cara Membaca dengan Jenis Buku
Untuk novel, kamu bisa membaca beberapa halaman berurutan dan membiarkan ceritanya membawa perhatianmu.
Untuk buku pengembangan diri, pilih satu bab yang menjawab masalahmu lalu coba satu gagasannya sebelum berpindah ke bab lain.
Untuk buku nonfiksi yang padat, lihat daftar isi lebih dulu dan tandai bagian yang paling relevan agar kamu gak merasa wajib menelan semuanya sekaligus.
Kalau kamu ingin mengenali pendekatan yang berbeda, materi tiga mode membaca bisa membantumu memilih cara baca sesuai kebutuhan.
Kamu boleh membaca pelan, melompat, mengulang, atau berhenti sejenak, selama pilihan itu membantu kamu berinteraksi dengan buku.
Coba Tantangan Kecil, Bukan Hukuman Baru

Selama dua minggu, pilih satu buku yang membuatmu penasaran dan beri dirimu izin untuk membaca hanya 10 menit per sesi.
Setiap selesai membaca, tandai apakah kamu ingin lanjut, ingin berhenti, atau ingin mencoba buku berbeda.
Kalau kamu ingin lanjut, bagus, tetapi kalau tidak, cari tahu alasannya tanpa buru-buru menyalahkan diri sendiri.
Mungkin topiknya terlalu jauh dari kebutuhanmu, gaya bahasanya terasa berat, atau kamu sedang butuh bacaan yang lebih menghibur.
Kalau menemukan satu gagasan yang terasa penting, catat satu kalimat tentang bagaimana gagasan itu berhubungan dengan hidupmu.
Gak perlu membuat rangkuman panjang atau memaksa diri mengingat setiap detail.
Kalau kamu penasaran dengan cara menjaga ide dari buku tetap menempel, baca juga cara mengingat isi buku setelah selesai membaca.
Dan kalau setelah 10 menit kamu malah ingin lanjut selama satu jam, nikmati saja, hehehe, karena rasa tertarik gak perlu dipotong demi mengejar aturan buatan sendiri.
Mulai dari Satu Buku yang Benar-Benar Kamu Pilih
Jangan menunggu sampai jadwalmu kosong atau sampai kamu berubah menjadi orang yang selalu membaca setiap malam.
Ambil satu buku yang memancing rasa penasaran, pilih waktu yang realistis, lalu uji cara baca yang paling mungkin kamu ulangi.
Kalau belum cocok, ubah bukunya atau waktunya, bukan langsung menganggap dirimu gagal.
Saat kamu membuka buku berikutnya, apa yang sebenarnya ingin kamu dapatkan darinya, dan cara membaca seperti apa yang terasa menyenangkan buatmu?
